MENARA DI ATAS BUKIT (KUMPULAN FEBEL)

KUMPULAN FABEL
MENARA DI ATAS BUKIT





SITTI ARAH

                                                                    Kata Pengantar
Tiada kata yang paling pantas penulis ucapkan selain kata syukur yang sedalam-dalamnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala, atas segala rahmat, petunjuk, dan hidayah yang telah diberikan kepada penulis, sehingga kumpulan Fabel yang berjudul Menara di Atas Bukit ini dapat terselesaikan. Pembelajaran karya sastra khususnya cerpen, dimaksudkan agar siswa mampu menyelami fenomena kehidupan manusia yang terpantul lewat karya sastra sebagai bagaian dari realitas kehidupan. Dengan demikian, mempelajari karya sastra pada hakekatnya bertujuan agar siswa dan penikmat karya sastra dapat menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya.
Sebagai karya manusia, tentu tidak luput dari kekurangan. Untuk itu penulis senantiasa mengharapkan saran, dan masukan dari semua pihak demi penyempurnaan karya ini dan karya mendatang. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam mewujudkan Kumpulan Cerpen ini.
Akhir kata, semoga Kumpulan Fabel Menara di Atas Bukit ini dapat menambah dan memperluas cakrawala berpikir siswa pada khususnya serta pembaca pada umumnya menuju kehidupan yang lebih bermakna. Amin.


Makassar, 27 September 2012
     Penulis







Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
1. Terpedaya
2. Teriakan di Balik Lumpur
3. Menara di atas bukit
4. Terperangkap
5. Nyasar
6. Predator
7. Terkepung
8. Pembunuh kejam
9. Terperosok............













1. Terpedaya
Kucing belang merah kecoklatan itu mengeong- ngeong seorang diri. Ia kelihatan sedih bercampur bingung. Tak ada yang tahu entah apa yang sedang dipikirkannya. Sesekali ia meloncat ke atas dahan untuk memperhatikan sekeliling. Tetapi, hanya sesaat ia melompat turun kembali. Kegiatan itu dilakukannya berulang kali sepanjang hari ini. Tanpa disadari,tingkah laku kucing belang itu diamati dari tadi oleh seekor tikus. Walaupun tikus ingin bertanya, tetapi diurungkan niatnya sebab takut jangan sampai malah diterkam oleh kucing. Itulah sebabnya mengapa sang tikus lebih memilih diam sambil memperhatikan segala gerakan tikus dari balik pohon. Tak lama kemudian, kucing bertemu dengan seekor anjing. Melihat ada seekor kucing, anjing hitam yang tinggi besar itu begitu bernafsu untuk memburu kucing. Tetapi keinginan itu ditahannya dan berpura- pura baik menegur kucing,
„Hai kucing manis, mengapa kamu kelihatan murung dan gelisah seperti itu?“.
Kucing yang mendapat pertanyaan dari anjing langsung terperanjat. Darahnya berdesir diikuti dada yang berdegup kencang. Ia tidak menjawab, hanya matanya yang tajam mengawasi anjing. Ia heran mengapa anjing itu baik padanya. Padahal, ia masih ingat ketika beberapa waktu yang lalu ibunya babak belur di sekujur tubuh gara- gara diburu dan dibantai oleh seekor anjing. Si kucing pun masih ingat akan pesan ibunya untuk berhati- hati pada bangsa anjing karena diantara mereka mempunyai dendam lama yang entah kapan akan terselesaikan. Tetapi kali ini, tingkah anjing yang satu ini tidak tampak seperti musuh. Justru sebaliknya, sapaan anjing hitam bagaikan sahabat lama yang baru bertemu kembali.
„Hai kucing manis, aku bertanya padamu. Apa kamu tuli?. Ditanya malah cengengesan begitu. Tak usah takut padaku. Aku ini anjing yang baik. Tidak seperti anjing yang lain“, kata anjing sambil tersenyum.
„A..anu. maaf, saya mencari adik saya“, jawab kucing sambil menyembunyikan ekornya di pantat.
„Memangnya adik kamu ke mana?“.
„Tadi katanya mau main di pinggir danau ini, tetapi sampai sekarang belum pulang“, jawab kucing sedih.
„Oo, jadi adikmu hilang?. Ah paling juga nyasar. Lagi pula siapa juga yang mau ambil adikmu itu. Tapi kalau kamu mau aku bantu mencarinya, aku bersedia melakukannya“, kata anjing menawarkan diri.
„Membantuku?. Bagaimana caranya, apa kamu tahu keberadaan adikku?“, tanya kucing heran.
„Bagi aku, itu hal yang sangat gampang. Aku mempunyai mata- mata yang bisa ku sebar di seantero hutan ini untuk menemukan adikmu. Selain itu, aku juga mempunyai dukun sakti yang bisa mengetahui keberadaan adikmu dalam sekejap“, jawab anjing.
„Mata- mata dan dukun?. Wah kamu hebat sekali“.
„Iya, siapa dulu dong. Anjing hitam yang cerdik. Hehehe“.
Anjing hitam itu terus berceloteh meyakinkan sambil memperhatikan raut wajah sang kucing. Ia berharap sang kucing percaya segala bualannya. Kebaikan yang ditawarkan oleh anjing perlahan- lahan mengendorkan hati kucing dan mulai mempercayai anjing. Ia bahkan sama sekali tidak menaruh rasa curiga lagi kepada anjing. Mungkin karena ia masih seekor kucing betina belia yang belum terlalu tahu akan dunia binatang yang penuh intrik dan bahaya yang mengancam setiap saat.
Setelah berfikir dan diam sejenak, si kucing melanjutkan pembicaraannya kembali dengan anjing.
" iya anjing, saya bersedia menerima pertolonganmu“.
„Baiklah kucing manis, hehe dengan senang hati aku akan membantumu. Tapi kamu jangan menyesal ya? Soalnya, kita akan menempuh perjalanan panjang yang agak melelahkan “, jawab anjing sambil menjulurkan lidahnya.
Tak lama kemudian, tampakah kedua binatang itu menyusuri hutan belantara.  Anjing hitam yang badannya tegap berjalan di depan. Bulunya yang hitam dan tebal berkilau diterpa cahaya mentari. Kucing yang badannya jauh lebih kecil berjalan di belakang. Sesekali ia melompat ke atas pohon yang ada di dekatnya jika ada bunyi mencurigakan yang membuatnya takut walaupun itu hanya bunyi dahan yang patah  yang melintang di jala yang dilaluinya. Pepohonan dan dahan kecil yang dilalui menggoyangkan daunnya jika tersentuh oleh kedua binatang itu. Hewan lain yang melihat merasa heran dengan keakraban yang terjalin oleh kedua binatang itu. Padahal, seantero penghuni hutan juga tahu, kalau kucing dan anjing adalah musuh bebuyutan yang tak pernah akur. Beberapa hewan lain menaruh curiga pada anjing dan kasihan pada kucing. Tetapi mereka memiih diam karena tidak mau mencampuri urusan binatang lain. Mereka hanya berharap, mereka memang benar- benar berbaikan tanpa ada tendensi lain dari anjing. Ketika sudah agak lama menempuh perjalanan, anjing kembali memulai pembicaraan.
„Cing, coba kamu berjalan di depan, biar aku komandoi dari belakang“, kata anjing memecah keheningan.
„Baik, tapi saya jalannya agak lambat“.
„Tak apa, aku mengikutimu dari belakang“.
Ketika kucing berjalan di depan,anjing terus memperhatikan tubuh kucing. Ia memperhatikan mulai dari paha yang montok hingga ke sekjur tubuhnya. Kucing yang asik berjalan di depan tanpa tahu ke mana anjing membawanya tidak mengetahui sedikit pun akal bulus anjing. Ia terus saja berjalan sambil mendengarkan komando anjing kapan harus berbelok atau lurus.
“Hem, pasti dagingnya empuk dan renyah. Dia kan masih belia. Hehehe. Akan kujadikan dia santap malam yang istimewa malam ini. Tapi bagaimana caranya aku menagkapnya?. Aku tidak mau ada yang melihat sehinga mereka tidak tahu kalau akulah penculik dan pembunuh kucing- kucing penghuni hutan selama ini“, kata anjing dalam hati.
„Anjing, apa tempat dukun sakti itu masih jauh?. Rasanya saya sudah capek sekali bejalan. Kakiku pegal- pegal“, tanya kucing sambil menoleh ke belakang.
„Sudah agak dekat cing. Coba liaht puncak gunung sana, dukun sakti itu tingal di sana“.
„Oo, tapi rasanya tulang- tulangku sudah mau remuk berjalan“.
„Tahan sedikit, nanti kita akan istirahat“, jawab anjing sambil menyeringai hingga gigi taringnya yang panjang dan runcing terlihat.
Mengetahui kucing mulai lelah, ia semakin gembira. Ia memang sengaja menggiring kucing ke tempat sunyi hiangga tak satupun binatang yang mengetahui aksinya terutama dari kalangan kucing. Apalagi selama ini aksi anjing selalu berjalan mulus dan tetap baik pada bangsa kucing. Setelah berhasil memperdayai kucing lain, maka anjing akan beristirahat beberapa lama karena kenyang. Apalagi kalau kucing yang di dapatnya kucing ukuran tubuhnya besar dan gemuk. Baru setelah itu, ia akan kembali mencari dan memperdayai mangsanya. Anjing yang satu ini memang sangat suka makan daging kucing di banding daging yang lainnya.
„Anjing, aku sudah tidak kuat berjalan. Kita harus istirahat“, kata kucing dengan nafas tersengal- sengal.
„Baiklah, di depan sana kita akan istirahat. Kamu boleh tidur pulas sesukamu“, jawab anjing.
„Aku akan beristirahat di atas pohon, biar aman“.
„Ja..jangan cing. Nanti ketahuan dukun sakti“, jawab anjing.
„Memangnya kenapa?“, tanya kucing penasaran.
„Kata dukun sakti, kalau ada yang mau menghadap, tidak boleh memanjat pohon. Itu pantangan besar dan misi tidak akan berhasil kalau itu dilanggar“, jawab anjing bersungguh- sungguh.
„Haa?!. Pantangan yang aneh. Lalu saya harus beristirahat di mana?. Saya tidak biasa kalau tidak tidur di atas pohon“, jawab kucing gelisah.
„Kamu beristirahat di sini. Aku akan mengumpulkan daun- daun untuk kamu tiduri sehinga tubuhmu hangat dan kamu bisa tertidur dengan lelap“, jawab anjing menawarkan kebaikan.
Anjing pun terlihat sibuk mengumpulkan daun- daun yang kering yang aka dijadikan sebagai tempat tidur kucing. Kucing hanya terheran- heran melihat kebaikan anjing dan tidak menyadari bahaya besar sedang mengancam keselamatannya.
„Nah, sudah siap. Silahkan rebahkan badanmu di sini kucing manis. Aku akan berjaga- jaga jangan sampai ada ular atau binatang buas yang lain“.
„Baiklah, jangan lupa membangunkanku kalau kita akan melanjutkan perjalanan lagi“.
Tidur di dekat anjing membuat kucing merasa sangat tidak nyaman. Walaupun merasa capek, tetapi ia tak dapat memejamkan matanya. Ia mengingat pesan ibunya dulu kalau ia harus berhati- hati kepada hewan lain terutama kepada anjing. Namun demikian ia heran karena anjing ini begitu baik padanya. Untuk itu, ia tidak ada pilihan. Semua ia lakukan agar dapat menemukan adik yang sangat disayanginya. Ia tidak mau kehilangan adiknya seperti ia kehilangan ibu, bapak serta saudara- saudaranya yang lain. Mereka semua pamit hendak berburu makanan, tetapi akhirnya tidak kembali dan hilang satu persatu tanpa jejak. Hal itulah yang membuat kucing belia ini bertekad untuk menemukan satu- satunya anggota keluarga yang masih tersisa.
Sementara itu, dengan sinar mata tajam melotot dan lidah yang terjulur panjang keluar, anjing hitam terus meemperhatikan tingkah laku kucing. Ia berharap kucing segera tertidur agar segera dapat menjalankan aksinya.
„Bagaimana cing, apa sudah merasa baikan dan bisa tertidur?“ tanya anjing mengetes kucing.
„Belum, saya susah tertidur. Saya selalu ingat adik dan ibuku“.
„Tenanglah, aku akan mengelus- ngelus punggungmu supaya kamu bisa tertidur“ jawab anjing sambil menyeringai.
Anjing pun mulai mengelus- elus tubuh mungil sang kucing mulai dari leher hingga di ujung ekor. Hal itu terus dilakukannya sambil memperhatikan kucing. Dinginnya malam membuat kucing semakin terlena oleh buaian kuku cakar anjing yang panjang. Sesekali anjing menggoyang- goyangkan tubuh kucing untuk memastikan apakah kucing sudah tertidur atau belum. Ketika yakin kalau kucing sudah terlelap nyenyak, perlahan anjing menghentikan belaiannya. Ia berdiri dan sekuat tenaga menerkam leher kucing hingga darah bercucuran. Kucing yang tertidur pulas tak dapat berbuat apa- apa. Ia mati terkulas dengan gigitan tajam di lehernya. Anjing pun menyeringai riang. Ia segera membawa bangkai kucing yang gemuk itu ke tempat sunyi untuk dimakannya. Hanya nyanyian burung malam yang turut berduka atas matinya kucing belia yang tak berdaya itu.
Berhati- hatilah terhadap kebaikan yang ditawarkan oleh orang lain apalagi orang yang tidak di kenal dengan baik. Sebab hal itu bisa saja hanya tipuan yang dapat membahayakan diri sendiri@




2. Teriakan di Balik Lumpur

Kucuran hujan bulan ini adalah hal yang paling dirindukan oleh seantero mahluk bumi. Demikian pula oleh mahluk hidup yang hidup di dalam air. Hal inilah yang dialami oleh sekawanan siput yang sedang membenamkan seluruh badannya ke dalam lumpur. Mereka terus berharap tetesan hujan segera menerpa tanah tempat mereka membenamkann diri agar terhindar dari terik matahari. Teriakan siput- siput kecil sangat riuh meminta diselamatkan oleh ibunya. Walaupun ibunya sendiri susah payah melindungi anak- anaknya. Sudah banyak cangkang- cangkag yang berserakan di atas permukaan tanah yang kering. Mereka tak mampu bertahan hidup dalam kekeringan. Beberapa diantara mereka hanya mampu meneteskan air mata di saat- saat kematian menghampirinya. Kemarau tahun ini tergolong lebih lama dibandingkan dengan kemarau tahun yang lalu. Sudah menjadi kebiasaan bahwa bangsa siput akan ditinggalkan di alam bebas oleh ibunya setelah menetas menjadi siput- siput kecil yang hidup riang di dalam air. Sekawanan siput itu kini menghuni salah satu kubangan di sudut sawah tempat para kerbau beristirahat. Walaupun mereka tidak tahan dengan bau air kencing dari kerbau yang terkadang menindisnya itu. Tempat itulah satu- satunya yang kini menjadi rebutan ratusan siput segala ukuran untuk mempertahankan hidup. Begitu pula dengan hewan air yang lain.
Di tempat yang dihuni mahluk kecil yang menderita ini justru sangat dicari- cari oleh sekawanan itik pemangsa siput. Mengetahui kedatangan para itik, beberapa siput kecil berteriak histeris meminta pertolongan ibunya. Ada juga yang hanya diam sambil cepat- cepat menutup cangkangnya dengan rapat kemudian membenamkan dirinya ke dalamlumpur. Beberapa siput yang baru menetas hanya bingung mendengar keributan yang terjadi. Puluhan siput kecil menyembunyikan dirinya dengan menempel di balik daun dan rumput sawah agar tidak terlihat oleh para itik. Yang sedikit tidak tegang adalah para siput dewasa. Tetapi mereka tetap berusaha memberikan pertolongan melindungi siput kecil yang ketakutan.
 . Seketika kubangan air yang diserbu itu menjadi keruh membuat para siput saling bertabrakan. Keadaannya seperti perkampungan yang baru saja diserbu musuh. Beberapa ekor ikan yang ada ikut kelimpungan menyelamatkan diri. Mereka berenang ke sana kemari menyelamatkan diri dari sedotan paruh para itik. Mereka tenang saja karena yakin para itik tidak mampu memakannya karena cangkangnya ukuran tubuhnya yang lebih besar. Paruh bebek tak mampu menelannya. Di balik bongkahan tanah, terdengarlah rintihan seekor siput kecil membuat bulu kuduk seekor siput besar merinding. Setelah menegok ke kiri dan kanan menacari- cari, siput besar kemudian berbisik.
„Sayang, kamu di mana?. Aku dapat mendengar suaramu yang sama- samar“.
Siput besar berusaha memasang telinganya dengan harapan akan mendapatkan jawaban. Siput kecil itu terlempar ke dalam retakan tanah kemudian tertimbun ketika bebek berusaha meenyedot dengan paruhnya yang besar.
„Siput kecil, ayo. Tunjukkan dirimu. Kamu sudah aman. Para itik pemangsa sudah pergi“, kata siput besar dengan lembut.
Setelah diam sejenak, tampaklah gelembung- gelembung kecil pada air tempat siput kecil tertimbun.
„Huuuuk, to..tolong, aku tak dapat bergerak“, kata siput kecil sambil terisak.
„Oo kamu di situ rupanya, tenanglah aku akan segera menolongmu“.
Dengan susah payah siput besar mendorong bongkahan tanah yang menindis tubuh siput kecil.
„Kalau aku dorong, kamu angkat tubuhmu ya?“.
„Iya“, jawab siput kecil dengan suara gemetar.
Siput kecil merasakan tubuhnya yang semakin sakit tertindis tanah.
„Oh tidak, sepertinya cangkangku retak huuuk, tolong!“.
„Sedikit lagi, jangan takut. Kamu akas saya selamatkan. Tenanglah cangkangmu tidak apa- apa. Satu..dua,,ti..tigaa!“.
Pada hitungan ke tiga, bongkahan tanah dapat digeser seiring dengan bunyi suara traaakhh diserati gelembungan air yang besar. Tampaklah siput kecil yang menangis dengan posisi cangkang menghadap ke atas. Siput besar menggali tanah disekitar siput kecil kemudian mendorong naik tubuh siput kecil. Kini siput kecil bisa bernafas dengan legah. Siput besar sendiri masih merasakan tentakelnya yang sakit karena sudah mengarahkan semua tenaganya untuk menolong siput kecil.
„Coba kulihat sekujur badanmu, jangan sampai cangkangmu pecah“.
„Iya, aku merasa kesakitan di bagian belakang“.
„Cangkangmu aman. Kamu akan baik- baik saja. Sekarang mari ikut denganku. Menempelah di cangkangngku. Kita berenang ke air yang lebih jernih supaya perasaanmu lebih baik“.
Sesaat kemudian, tampaklah siput besar berenang ke tempat yang lebih jernih sambil membuka cangkangnya lebar- lebar sehingga tentakelnya terlihat bergerak dengan jelas. Mereka terus bergerak dengan tenang. Walaupun demikian, mereka tetap siaga penuh terhadap bahaya yang sewaktu- waktu dapat mengancam keselamatannya.
Kita harus waspadah setiap saat. Jangan lengah apalagi dalam situasi yang tidak aman. Berikanlah pertolongan semampu kita kepada siapa pun yang membutuhkannya@


3. Nyasar